Ketika seseorang diangkat sebagai seorang pemimpin, sejak saat itu beliau bukan hanya milik pribadinya, kerabat atau sahabatnya lagi. Namun seorang pemimpin itu adalah milik/mewakili semua umat/masyarakat atau orango-orang yang dipimpinnya. Setiap hal yang dia pikir, kebijakan yang beliau lakukan bukan hanya untuk pribadi, namun untuk semua elemen.

Pemimpin yang ideal memikirkan dirinya sendiri hanya satu (1) bagian dari seluruh hal yang beliau pikirkan, tiga (3) bagian pemimpin memikirkan kerabat, sahabat dan handa taulan, sedangkan delapan (8) bagian beliau harus memikirkan kepentingan orang banyak atau masyarakat yang dipimpinnya. Dengan sedikit menyederhanakan menjadi tiga hal tersebut paling tidak kita bisa menilai seorang pemimpin, apakah beliau seorang yang egois (Pribadi), semi egois (Kolusi, Koncoisme) atau seorang yang memasyarakat?

Masih adakah pemimpin yang seperti itu, mementingkan “Kerabat-Pribadi-Masyarakat” dengan perbandingan 3-1-8″? Sebab banyak pemimpin masa kini yang jauh dari itu, kebanyakan kita setelah didaulat menjadi pemimpin lalu kemudian menjadi sewenang-wenang, arogan dan otoriter. Sifat itu muncul tanpa kita sadari, dan biasanya kita tersadar setelah menemui banyak penolakan dari masyarakat. Beruntung sekali jika kita bisa mendengar kemudian bisa tersadarkan, biasanya kita tidak bisa mendengar lagui suara masyarakat. Mungkin karena kesibukan saat itu atau memang ada skenario menjauhkan pendapat masyarakat terhadap para pemimpin mereka. Dan kadang orang yang berada di sekitar pemimpin dengan sengaja atau pura-pura tidak mendengar. Keluhan dari masyarakat tidak pernah tersampaikan kepada sang pemimpin. Jika hal itu tak terakomodasi dalam jangka yang lama, suatu saat bisa menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat. Dan resiko terburuk akan terjadi pengadilan rakyat sebagaimana telah terjadi beberapa kali di negeri ini.

Pemimpin harus “Bares” (Jujur) dalam setiap perkataan baik ketika sedikit maupun banyak. Dengan kejujuran tersebut tidak akan menimbulkan kecurigaan pada masyarakat, tak ada hal yang tertutup bagi kepentingan masyarakat. Berikutnya seorang pemimpin juga harus “Mantap” (Teguh Pendirian), dimana pemimpin harus mempunyai pendirian yang teguh terhadap keputusan. Keputusan yang telah ditentukan sesuai pertimbangan yang ada (masyarakat/negara) harus dipertahankan dari segala macam penolakan dari beberapa segelintir orang (untuk kentingan pribadi/kerabat). Sehingga keputusan tersebut tak terpengaruh oleh intervensi dari orang yang egois. Berikut seorang pempimpin harus “Wani” (Berani), terutama dalam mengambil keputusan. Sejujur apapun seorang pemimpin tanpa keberanian akhirnya juga belum lengkap. Kejujuran dan kemantapan hanya terbaca pada tingkat pribadi pemimpin, sedangkan keberanian merupakan proses keluar dari pribadi pemimpin (masyarakat). Keberanian diperlukan untuk mengambil keputusan dari segala resiko yang ada sehingga keputusan yang telah ditentukan dapat segera diimplementasikan. Sehingga dengan tiga bekal kemampuan yang dimiliki pemimpin “Bares-Mantep-Wani” (BMW) ditambah lagi konsep perbandingan kepentitan “3-1-8″ (Kerabat-Pribadi-Masyarakat) diharapkan akan terjadi “Lancar” kelancaran dalam proses kempimpinan.

Semoga saja para pemimpin menjadi sadar, bahwa kini mereka tidak lagi milik pribadi, sahabat atau kerabat semata. Kini mereka adalah milik masyarakat, segala ucapan tindakan dan pikiran mereka ada untuk masyarakat yang dipimpinnya (negara). Segala hal yang perlu diperdebatkan/permasalahkan harus selalu mengacu pada kepentingan rakyat banyak diatas kepentingan pribadi, kerabat. Pemimpin harus bisa menampung, memberikan keuntungan bagi seluruh masyarakat, dengan demikian akan terwujud cita-cita yang diimpikan.
Inspirator : Eyang SSKartono

When the time has come. There is no perfect words, I can say nothing just ” Have a nice Idul Fitri 1430 H to all of you”. Hope Allah will blessing you All!

Waktu aku kecil dulu Guru memberi nasehat, “Nak, Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit!”. Saat itu aku belum berpikir bahwa kita tak pernah menggapai yang namanya langit itu! Keberadaan langit sendiri adalah tak terbatas, tak terjangkau oleh kita meski dengan pesawat supercepatpun. Jangankan menggapai langit, lha wong menggawai awan yang jelas-jelas lebih rendah saja nggak mampu!

Seiring bertambah usia, Guru yang lain memberi nasehat “Nak, Dalam hidup ini mengalirlah seperti air!”. Beberapa saat benar juga memahami nasehat sang guru ini. Namun seiring waktu dan bertemu Guru yang lain yang memngatakan “Hidup ini, janganlah seperti air! Karena sebagaiman logika air hanya akan mengalir ke tempat yang rendah!” Apakah kita akan selalu menuju ke tempat/posisi yang lebih rendah?

Di kesempatan lain Guru yang lain memberi nasehat “Hidup lah laksana lilin, sinarnya menerangi sekitar!” Nasehat ini sangat bagus juga, kita harus menjadi orang yang memberi manfaat bagi orang lain. Namun ketika lilin menerangi ruangan sekitar, dirinya akan meleleh, lama-lama akan habis dan hilanglah terangnya. Apakah kita akan seperti lilin yang lama-lama kehabisan terangnya untuk menerangi orang lain?

Hingga suatu saat aku berpikir bahwa tiada kata yang sempurna untuk merepresentasikan kehidupan ini. Setiap prinsip hidup yang kita pilih ada konsekuensinya ada sisi baik dan buruknya, ada sisi positif dan negatifnya. Bukankah kehidupan manusia itu sendiri memang tidaklah sempurna. Kita lihat saja di dalam kehidupan di masyarakat, setiap orang berharap menjadi kaya, jabatan tinggi, istri cantik, suami tampan, atau anak yang lucu. Namun disisi lain kekayaan yang mereka tidak membuat mereka nyaman, jabatan tinggi justru membawa petaka ke penjara, istri cantik atau suami tampan tapi keluarga tak tentram (karena adanya WIL atau PIL), atau anak-anak yang lucu terjerat narkoba.

Pililah nasehat kehidupan yang ada dan rasakan konsekuensinya, karena tak ada satu nasehatpun yang sempurna!

Namanya Andreaz, seorang laki-laki usia 26 tahun, tampan, selalu berpakaian rapi, sepatu pantofel. Jam tangan rolex disebelah kiri, rokok Wismilak adalah teman wajibnya. Mengenai rokok, Mas Andreaz sepertinya adalah perokok berat, aku sendiri tak habis pikir dengan mereka para perokok. Yang aku tahu mengenai rokok, rasanya pahit dan asapnya sangan mengganggu pernapasan, selain itu banyak duit keluar untuk membeli. Selain itu ada sebagian kaum muslim yang mengharamkan rokok dan sejenisnya, meski ada muslim lain yang tidak mengharamkan sebuah rokok. Namun kalau aku ditanya, rokok adalah haram bagiku, aku tidak melihat/merasakan manfaat dari rokok, yang aku lihat bahwa rokok mengganggu kesehatan dan keuangan, itu saja.
Sering menghabiskan hari-hari di Army Net, kadang mondar-mandir keluar masuk untuk memesan makan atau minum diluar. Dan saat itu akan terdengar suara sepatunya yang khas, layaknya suara sepatu tentara ketika mereka berjalan. Kebetulan diluar banyak yang jual warung makan, Mie Ayam, Soto, Nasi Goreng, bahkan sate juga ada. Karena lokasi Army Net dekat pasar, jadi wajar banyak pilihan untuk makanan. Setahun lalu ketika kami bertemu, Mas Andreaz masih menggunakan motor tuanya Honda-Grand Tahun 97 kesayangannya. Dan rumahnya ternyata dekat, beberapa kilo meter sebelah timur rumahku, dan ketika kami pulang dari Army Net, satu jalan lewat depan rumahku. Sewaktu berpisah Mas Andreaz tak lupa mengucapkan terima kasih, kebiasaan mas Andreaz ini masih membekas di pikiranku, aku menantikan ucapan itu ketika kami pulang bersama. Ucapan terima kasih sering kali keluar dari Mas Andreaz ketika mendapatkan bantuan seseorang tidak hanya padaku.
Pertama kali kenal Mas Andraz mengaku Manajer sebuah perusahaan supplier komputer di kota Solo. Beberapa tahun sebelumnya adalah pegawai bank swasta di solo juga, lalu mengundurkan diri dan mendirikan perusahaan sendiri. Dari kartu nama yang pernah dia tunjukkan padaku, aku salut dengan perjuangannya ketika mendirikan perusahaannya. Banyak suka duka dalam pekerjaan, banyak keluar uang untuk mendekati para kliennya untuk sekedar mentratir waktu membicarakan bisnis yang tentu saja di hotel/resto mewah. Beberapa bulan terakhir Mas Andre menggeluti distributor Notebook merk tertentu untuk area Solo Yogya Semarang.
Kira-kira satu bulan lalu, mas Andreaz datang dengan Sky Wavenya yang baru, aku sempat terkejut juga, motor sudah ganti baru, ada peningkatan. Sebelumnya mas Andreaz sempat bimbang antara beli Mio atau Sky Wavenya itu, setelah beberapa pertimbangan pilihan jatuh pada Sky Wave. Mas Andreaz merasa puas atas pilihannnya itu yang menurutnya dirasa pas!
Dan baru saja tadi malam, Maz Andreaz bawa mobil BMW 320i nya sekitar jam sebelas. Memang sewaktu ada mobil mau parkir di depan Army Net sempat melihat, namun tak mengira bahwa yang bawa mobil mas Andreaz. Setelah berhenti aku memastikan keluar untuk melihat, dan aku lihat Mas Andreaz masih di dalam mobilnya. Aku hampiri, lalu mas Andreaz bercerita mengenai keajaiban yang terjadi padanya. Mengendarai, memiliki mobil idamannya sebagaimana yang dia mimpikan beberapa bulan lalu. Ketika itu mas Andrea punya impian mobil yang lux semacam BMW, namun belum kesampaian mengingat kondisi keuangan saat itu. Bahkan beberapa hari sebelumnya Mas Andrea masih merasakan impiannya itu masih sangat jauh untuk diraih. Ketika mendengar impiannya yang tinggi, dalam hati bertanya-tanya juga, wah kalau aku punya banyak uang, untuk beli mobil mungkin prioritas ke sepuluh.
Mas Andreaz mulai bercerita mengenai kehebatan dari BMW 320i yang baru saja dia dapat. Mengenai body, mesin, accecoris yang bagus apalagi tentang perawatan dari pemilik sebelumnya, kemudian waktu nego harga pada pemiliknya, tentang pembayarannya. Mas Andreaz menganggap keajaiban, mobil impiannya bisa dia raih, merasa bersyukur atas pertolongan Allah. Mas Andreaz merasa bahwa Allah mengirimkan malaikat untuk dirinya melalui!
Ngomong-ngomong aku turut senang juga dipersilahkan melihat desain interior mobilnya, accecoris audionya, dashboard yang lux dan merasakan kursinya yang empuk. Sempat terbayang untuk memiliki mobil juga suatu saat…! Ketika Mas Andreaz menawarkan untuk mencobannya padaku, aku langsung angkat tangan, belum pernah pegang stir mobil……!
Kira-kira mobile Mas Andreaz seperti ini BMW 320i, membuat pemiliknya naik kelas…..!
BMW 230i