You are currently browsing the category archive for the ‘Cerita Sahabat’ category.
Setelah hari Minggu lalu aku dan saudaraku belum berhasil menjenguk Ibu W di LP, hari Senin kami tak bisa dan akhirnya hari ini Selasa 24 Maret 2009 kesampaian juga tujuan kami. Pagi hari aku berangkat ke Solo setelah satu jam perjalanan naik motor sampai di kontrakan dimana saudaraaku tinggal. Saudaraku memulai usaha Qee Laundry di Pajang Surakarta setahun yang lalu, hingga aku sering kali diminta bantuan untuk memajukan usahanya. Setelah sampai di sana aku diminta menunggu sebentar, saudaraku sendang menikmati koran harian di warung sebelah. Aku coba membaca buku yang terdapat di ruang tamu yang dijadikan sebagai kantor adminstrasi. Ruangannya cukup luas sehingga cocok untuk usaha sesuai dengan harga yang harus dibayar. Akhirnya saudaraku muncul juga dari warung sebelah dan kamipun berkemas menuju ke LP, setelah 10 menit perjalanan motor akhirnya sampai juga. Aku menuju loket dan memperlihatkan KTP, aku pikir tulisan “Tidak Dipungut Biaya” sesuai dengan kenyataan? Tidak petugas meminta biaya 5 rbu, ketika aku tanyakan ke petugas mengenai tulisan yang tertera. Beliau agak marah, gratis jika membawa surat rekomendasi dari pihak berwajib, wah kalau harus ngurus lagi surat itu ribet juga. Tak mau berdebat aku pun menyerah dan kubayar 5 rbu rupiah tanpa kwintansi seperti yang dilakukan para pengunjung lainnya. Tinggal mengalikan pendapatan LP perhari sudah berapa uang yang masuk ke situ tanpa keterangan. Tak tahu juga untuk apa uang itu masuk kas negara atau salah masuk kantong pejabat?
LPĀ Surakarta
Akhirnya kamipun masuk, dipintu masuk kami mendapatkan kartu bernomor 042 dan 153 untuk saudaraku. Kami harus memakainya selama memasuki LP, setelah melalui beberapa pemeriksaan kami dipersilahkan menunggu di ruangan/aula tempat para pengunjung dan napi bertemu. Di depan aula terdapat mushola yang sedang berlangsung acara pengajian kami pikir mereka para napi mendapatkan siraman rohani. Sebelum memasuki aula kami mengamati lingkungan disekitar LP, banyak terdapat blok kamar dan ruang lainnya. Kami coba membayangkan blok yang manakah Ibu W tinggal, kemudian kami memasuki aula dan dipersilahkan menunggu. Karena baru pertama kali berkunjung aku tanyakan kepada petugas yang sebagian juga para napi sendiri dan beberapa petugas resmi LP, bagaimana kami harus menunggu? Apa yang kami lakukan? Bagaimana kami bertemu Ibu W?Kami diminta menunggu di aula sebentar dan Ibu W akan diminta datang ke aula, dan kamipun bergabung dengan para pengunjung lain sembari mecari tempat yang kosong untuk duduk karena tak ada kursi distu, semua pengunjung menemui kerabat napi-nya dengan lesehan (lebih santai) menurutku. Tak berapa lama menunggu, kami melihat Ibu W masuk aula, aku perhatikan Ibu W masih bingung mencari! “Siapa yang mengunjunginya hari ini?” mungkin itu yang ada dalam pikirannya. Ketika kupanggil “Yu” dia masih belum menemukan kami, masih mencari keberadaan kami diantara pengunjung. Lalu kami mendekat dan memanggilnya, Ibu W kaget ketika melihat kami dan kemudian kulihat air mata mulai menetes dari kedua matanya, kamipun diam sebentar. Ibu W mengenakan kaos seragam napi warna biru muda memakai kerudung dikepala. Kamipun ikut sedikit larut dalam kesedihan atas apa yang menimpa, lalu kami duduk diantara pengunjung lainnya. Ibu W tak mengira bahwa kamilah menjenguknya, karena sampai saat ini baru kami yang menjenguk di LP Solo (selain keluarganya). Saat dipanggil petugas tidak memberitahukan siapa yang menjenguk dan Ibu W juga lupa menanyakan hal itu. Segera saja dia berganti pakaian seragam napi sambil menenteng tas kresek yang telah dia persiapkan. Ibu W menangis sambil mengisahkan nasib yang menimpa dirinya dan kami merasa iba, kami berusaha menghibur bahwa yang sudah terjadi biarlah. Nikmati hidup selama di LP dan berusaha untuk tabah. Bersama dengan penghuni LP lainnya diberi bekal untuk membuat kerajinan tangan. Sempat menunjukkan buah karyanya kepada kami sebuah accesoris pena terbuat dari untaian butir-butir mutiara tiruan. Ada empat buah accesoris dua warna hitam dan dua putih ditunjukkan kepada kami dan Ibu W berpesan untuk mengantarkannya kepada anaknya. Dan khusus untuk accesoris diperuntukkan anak yang masih sekolah SD, beberapa pakaian bagus pemberian seorang teman Ibu W yang sudah habis masa tahanan beberapa hari lalu. Aku berjanji untuk mengantarkan ke anak nya yang kedua, karena aku tahu tempat tinggalnya.
Kehidupan di LP
Ibu W merasa kesepian hidup di tahanan, apalagi jika teringat anaknya yang masih sekolah dasar. Apalagi dua bulan lalu sempat diperolok teman-temannya sehingga malu dan menangis, oleh kerabat dan para guru akhirnya anak tersebut dipindah sekolah. Ditempat buliknya (adik Ibu W) yang rumahnya agak jauh dari desa kami, agar si anak bisa sekolah dengan tenang. Ibu W bercerita tentang kehidupan dia selama di LP bersama teman lainnya, di LP saat itu ada sekitar 700 narapidana dimana mayoritas adalah laki-laki. Dan juga beberapa anak remaja yang dititipkan disitu, kami sempat melihat sepintas seorang anak usia sekolah di luar aula. Ibu W mengatakan bahwa anak tersebut adalah temannya di LP karena pencurian lima HP. Selama di LP dia rajin sembahyang dan shalat tahajud, kami tak bisa membayangkan bagaiana dia shalat malam. Ibu W adalah seorang muslimah yang buta huruf, sehingga kami tak bisa berkomentar banyak tentang hal ini. Aku hanya berpikir setiap manusia mempunyai tingkatan ilmu dan iman sendiri sendiri, tentu Allah sendiri yang bisa menilai. Menurutku hafalan/fasih bukanlah hal yang paling penting untuk kasus Ibu W ini, yang penting doa dalam hati. Bahkan malam tadi setelah shalat malam lalu tidur, dan melihat kami berdua datang mengunjunginya. Apa yang dia lihat dalam mimpi benar-benar nyata dan kami pun datang menjenguknya. Aku tak tahu relevansi antara mimpi dengan kenyataan, aku sendiri sering mengalami hal ini. Aktivitas pagi hari dimulai dengan senam kemudian membersihkan lingkungan sekitar, di makan pagi sekitar jam 9. Untuk hiburan, mereka bisa menonton tv yang disediakan namun sifatnya terbatas. Untuk soal makanan, Ibu W merasa tak nyaman dengan menu yang ada. Maklum menu yang disajikan untuk mereka tidak lah standar sebagaimana Ibu W makan, apalagi nasinya, mungkin beras kualitas rendah. Jam 4 sore, para napi harus masuk ke sel tahanan sampai hari esok lagi, sehingga banyak diantara mereka yang kesepian. Di saat inilah mereka mengalami kesepian, tertekan, karena sendiri dan ada yang tak tahan sampai kemudian bunuh diri.
Perlakuan Istimewa
Selama ini Ibu W mendapatkan perlakuan agak istimewa dibanding dengan tahanan wanita lainnya. Mungkin karena Ibu W termasuk orang yang penurut, tak berbuat onar, sehingga para sipir wanita banyak yang iba dan memberikan nasehat kepadanya. Di saat terakhir kami banyak mendengarkan, aku pikir memang terlalu banyak unek-unek yang harus dia keluarkan. Saudaraku memberikan kode kepadaku untuk mengakhiri kunjungan, namun aku tak setuju, menunggu sampai jam besuk selesai. Kami mendengar keluhan Ibu W dan kami tidak menghiraukan para pengunjung yang lain, sepertinya yang ada di ruangan itu hanya kami bertiga. Menurut informasi Ibu W akan di kenai sanksi hukuman selam tiga bulan sebagaimana kasus yang sama yang pernah terjadi. Tanggal 6 April akan diadakan sidang lagi, mungkin untuk keputusan masa hukuman, dan jika beruntung bisa mendapat keringangan seminggu karena kelakuan baik selama dalam masa tahanan. Lalu seorang laki-laki berseragam biru muda (napi yang bertugas) memberitahukan kepada kami waktu kunjungan sudah habis, jika ingin perpanjang lagi harus bayar lima ribu rupiah. Akhirnya kami mengakhiri kunjungan dan Ibu W menitipkan tas kresek kepada ku. Setelah kami mohon diri kemudian dia kembali ke sel tahanan dan aku dan saudara meninggalkan aula, mengembalikan nomor pengunjung ke petugas dan pulang. Seteklah mengantar saudaraku ke Pajang lalu aku sendiri pulang. Dalam perjalanan aku merenung sambil memikirkan bagaimana aku menyampaikan amanat yang Ibu W titipkan kepadaku. Lalu aku putuskan ke rumah anak kedua Ibu W saja, sebelum pulang kerumah, lebih cepat lebih baik.
Menyampaikan Pesan
Satu jam perjalanan sampai juga di rumahnya, aku melihat pintu rumahnya berarti ada orang disana. Di depan rumah kulihat seorang nenek, lalu aku mendekat dan aku bertemu dengan orang yang kucari anak kedua dari Ibu W, usianya duapuluhan tahun. Menikah di usia sangat muda dan saat ini memiliki dua orang anak laki-laki, tinggal di lereng pegunungan yang nyaman. Tak lama kemudian datang seorang anak laki-laki kecil yang menghampiriku juga, aku kenal dia juga. Mungkin dia mendengar suara motor ku kemudian pulang dan mendekat, sempat aku bertanya padanya. Aku dipersilahkan masuk dan kulihat anak kecil tidur di alas tikar. Rumah mereka sangat sederhana, tembok dari anyaman bambu, penyangga utanmanya kayu jati yang masih muda dan beberapa bagian kayu glugu. Sebuah keluarga sederhana pikirku! Aku kemudian mengatakan maksud kedatanganku, mengantar pesan dari orang tuanya Ibu W dan ku berikan tas kresek titipan dari Ibu W pada wanita itu. Dan aku katakan juga bahwa accesori pena khusus diberikan untuk adik D satu-satunya Wanita itu berterima kasih pada kami karena telah mengunjungi Ibu nya di LP. Aku juga mengatakan bawah, jika ingin mengunjungi Ibu di LP jangan hari Kamis besok karena hari Libur nasional. Wanita itu berencana berkunjung hari Jumat, aku mengingatkan kalau kunjungan bisa dilakukan di hari Senin-Kamis saja, untuk haru Jumat/Sabtu khusus pengunjung kasus narkoba. Saat itu aku tak melihat suaminya M, lalu kutanyakan pada wanita itu. Suaminya sedang bekerja di tempat tetangga. Segera saja aku mohon diri untuk pulang, jalan yang kutempuh adalah berputar menyusuri jalan dibawah lereng pegunungan. Beberapa saat kemudian sampai rumah, ketemu simbok, lalu aku ceritakan apa yang kami alami. Akhirnya kesampaian juga menjenguk Ibu W di LP! Masih ada pesan Ibu W yang harus aku sampaikan kepada seorang yang masih kerabat dekatnya, bahwa Ibu W mengharap kedatangannya di LP Solo. Hari ini aku belum bisa menyampaikan pesan beliau, mungkin lain waktu saja. Meski Ibu W terlibat dalam tindak pidana, sampai saat ini aku hanya berpikir karena Ibu W tinggal di sebelah rumahku jadi aku harus menjenguknya.
Pesan dari LP: End
Seorang tetangga (Ibu W)dekat masuk bui beberapa bulan lalu, karena urusan yang kecil (menurutku) mengambil sepeda milik orang tanpa sepengetahuan pemilik di pasar (kata orang). Ketahuan pemilik akhirnya dihakimi massa sebelum kemudian ditangani pihak kepolisian setempat. Jika dibanding dengan para koruptor mungkin apa yang dilakukan ibu ini tak seberapa (<500 ribu), pihak kepolisian hanya mampu mengusut mereka para pencuri kecil. Sedangkan para koruptor yang menjarah uang negara berjuta-juta bahkan bermilyar-milyar lolos begitu saja. Ibu W adalah seorang janda 45 tahun yang mempunyai tiga orang anak perempuan, dua diantaranya sudah berkeluarga dan anak terakhir masih sekolah dasar kelas 5. Kehidupan memang pas-pasan apalagi tidak punya pekerjaan yang tetap, sebagaimana orang-orang di desa. Aku juga tidak tahu bagaimana keluarga itu bisa makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Yang aku tahu rumah Ibu W ada disebelah rumahku dan dia sangat baik padaku. Tiap kali ketemu selalu menyapa dan tersenyum, kadang mengolok ketika aku mau pergi keluar rumah, hingga kejadian dua bulan lalu aku tak melihat dia di sekitar tetangga.
Seekor Kucing dalam Sumur
Yang aku ingat menjelang pagi hari/masih gelap keluarga Ibu W rame-rame karena ada masalah dengan sumurnya. Seekor kucing kecebur ke dalam sumur, Ibu W dan beberapa tetangga mencoba untuk mengambil si kucing dari sumur. Aku hanya mendengar kegaduahan suara mereka dari dalam rumah, aku tak tertarik dengan apa yang sedang terjadi. Aku tak tahu adakah relevansinya antara seekor kucing kecebur sumurnya kemudian di siang hari Ibu W kena urusan dengan polisi. Aku mengetahuinya di sore hari dari kabar tetangga, karena tak tahu kejadian sebenarnya aku hanya bergumam, benarkah Ibu W mengambil milik orang lain lalu dihakimi massa dan ditahan kepolisian? Aku hanya mendengar mereka berkata begitu! Karena saat itu aku juga mempunyai persoalaan yang memerlukan konsentrasi, aku sedikit menghiraukan apa yang terjadi pada Ibu W. Hingga di malam hari aku mendapat sms dari anak keduanya untuk sedikit membantu menghubungi suaminya. Waktu itu aku tak bisa berbuat banyak, aku berusaha membantu sedikit lewat komunikasi handphone, sampai akhirnya aku menyerah saat itu. Di saat yang sama aku juga berusaha menyelesaikan persoalanku sendiri lewat handphone. Aku hanya punya satu pilihan persoalan untuk diselesaikan dan aku membiarkan waktu berjalan. Lagi pula untuk urusan birokrasi kepolisian aku sendiri tak paham, ada orang yang lebih pantas melakukan hal itu RT/RW/Lurah.
Ke Solo Lagi
Setelah permasalahanku sendiri selesai akhirnya aku dan saudaraku merencanakan untuk menjenguknya di Lembaga Pemasyarakatan. Dan sayangnya kami berusaha meluangkan waktu kami minggu ini. Kami ingin menjenguk Ibu W tidak diketahui oleh para tetangga dan para anaknya. Jadi hari minggu 22 Maret 2009 aku berusaha untuk mencari keberadaan Ibu W di LP mana? Akhirnya ide muncul untuk mulai menanyakan di Polsek setempat (Weru, Sukoharjo) dimana kejadian perkara terjadi. Pagi hari mendapat informasi dari Om Ripto bahwa pakde (kakak ipar simbok)sakit keras, dan kami sekeluargapun bingung juga. Rencana kami menjenguk Ibu W bisa tertunda, apalagi aku harus menjemput saudaraku di Solo sebagaimana kami janjikan sebelumnya. Akhirnya aku ke Solo menjemput saudara lalu dilanjutkan ke rumah pakde sekitar 5 KM dari rumah. Beruntung saat itu hari masih pagi sekitar jam 10, jadi waktu untuk menjenguk pakde dan Ibu W pasti cukup. Di rumah pakde selama dua jam memastikan bahwa keadaan pakde sudah baikan, akhirnya kami rencanakan untuk menjenguk Ibu W, padahal pagi hari aku pesimis bisa melakukannnya. Kami pun mohon diri dan berangkat menuju polsek weru dan setelah menanyakan ke petugas piket, akhirnya dapat jawaban bahwa Ibu W kemungkinan sudah ditahan di LP Solo, atau di Polres Sukoharjo. Berbekal petunjuk pak polisi yang bertugas disitu kamipun menuju ke polres Sukoharjo dan sampai disana kami menanyakan pada petugas jaga. Seperti yang kami perkirakan sebelumnya ternyata sudah dipindahkan di LP Solo. Padahal pagi hari sudah ke solo, ni ke solo lagi, muter muter saja, tapi tak apa-apa kan sudah konsekuensi yang harus kami hadapi. Lihat Kampanye PDI-P Akhirnya menuju ke LP solo jalan Slamet Riyadi, namun sampai disana tanya petugas piket bahwa hari Minggu tak ada jam besuk. Seperti yang tertera di pengumuman, jam besuk hari Senin-Kamis untuk para napi umum jam 9 pagi sampai jam 1 siang, lalu untuk hari Jumat-Sabtu untuk tahanan narkoba. Membaca persyaratan identitas yang berlaku dan tidak dipungut biaya. Tak lupa kami menanyakan keberadaan Ibu W di LP tersebut pada petugas, setelah menunggu sebentar akhirnya kami mendapatkan jawaban positif bahwa ibu W memang ditahan disitu. Meski tujuan menjenguk belum tercapai kami tidak kecewa, kebetulan hari itu kampanye partai PDI-P. Kami memesan kue srabi solo yang mangkal di depan LP, sambil menunggu hidangan siap kami mengamati konvoi kampanye. Hari itu kami belum bisa menjenguk Ibu W, baru lihat LP makan srabi dan disuguhi kampanye PDI-P. Sekelompok anak muda berartibut PDI-P berpawai memenuhi jalan Slamet Riyadi Solo. Suara motornya yang telah dimodif memekakkan telinga membuat telinga orang sakit. Bagian depan seorang anak muda menunjukkan kebolehan dengan mengendarai motor dengan posisi terlentang, seperti tak punya rasa takut kalau jatuh kemudian terlindas dari rombongan di belakangnya. Aku tak paham dengan cara berpikir mereka, lain dunia
Continue : Pesan dari LP 1
Mainan Masa Kecil
Di sekelilingnya adalah orang-orang hebat, apalagi kerabat, juga koleganya. Sehingga apa yang ada dalam pikiran, pembicaraan dan sikap mereka adalah figur yang membekas di hati sang anak. Sejak kecil kemampuan dan kepribadian mereka dibentuk oleh lingkungan yang menunjang. Fasilitas yang ada membuat mereka lebih banyak mempunyai peneyelesaian alternatif atas suatu persoalan. Ketika masa kecil mereka memiliki segudang prestasi ya memang semestinya begitu.
Lain halnya dengan capres 2024 ini, masa kecilnya tinggal di desa dan orang tua yang sederhana. Kehidupan keluarganya seorang petani atau kadang disebut juga ‘tukang becak’, dan beberapa saudara. Masa kecil dilalui dengan membantu orang tuanya ke sawah, ketika anak-anak lain sedang bermain sepulang sekolah, sang capres menggunakan waktu luangnya untuk membantu ke sawah. Bahkan semasa masih Tk sang capres minta dibuatkan alat tersendiri untuk membantu sang orang tua dimana memang untuk anak kecil peralatan yang ada terlalu berat. Membuat para tetangga heran, anak kecil ini kok aneh…! Meski begitu tak ada nama keluarga dibelakangnya. Atau meski diberi nama keluarga toh orang tak akan tahu siapa orang tuanya, hanya rakyat biasa. Ketika ditanya cita-citanya kelak jawabnya adalah menjadi presiden RI mengembalikan kejayaan di masa Presiden Soekarno.
Lagi pernah merengek sama orang tuanya, agar ditambahkan sebuah nama sebutan didepan nama sebelumnya. Permintaan dituruti, apalagi saat itu akta kelahiran belum terarsip dengan baik di dalam pemerinthan daerah. Sehingga tanggal dan tahun kelahiran seseorang tidak lah akurat. Akhirnya capres kecil mempunyai nama baru yang keren paling tidak untuk ukuran waktu itu. Beberapa even lokal sempat menjadi juara namun karena kurangnya bimbingan akhirnya prestasi yang pernah dia raih tidaklah berkembang. Kini hanya sebagai catatan bahwa dulu pernah pernah berprestasi juga dan sebuah tropi penghargaan yang masih tersimpan di rumah. Kebanyakan orang menyimpan tropi kejuaraan di ruang tamu sehingga para tamu bisa melihat sejauh mana kemampuan sang tuan rumah. Tidak halnya dengan sang capres, tropinya disimpan di dalam almari dimana tidak sembarangan orang bisa melihat. Mungkin orang tidak akan pernah tahu atau lupa bahwa dulu dia pernah berprestasi.
Masa Remaja
Pernah terlintas dalam pikiran untuk menjadi tentara atau polisi, kemudian berubah lagi dan akhirnya medaftar kuliah ternama di sebuah perguruan tinggi negeri didalam negeri. Beruntung saat itu dia lolos seleksi dan akhirnya diterima kuliah di perguruan tinggi tersebut. Saat itu keputusan yang dia ambil tergolong berat, materi yang dia terima di waktu itu tak selengkap sekolah umum, orientasi sekolah adalah untuk langsung terjun ke lapangan kerja. Lagi saat itu sang capres tidak mengikuti les tambahan sebagaimana orang lakukan ketika akan memasuki tes perguruan tinggi. Hanya belajar yang tekun dan keberuntungan lah sang capres dapat lolos ke perguruan tinggi.
Kepemimpinan Terbentuk
Semasa memasuki perkuliahan inilah bakat keepmimpinananya mulai nampak. Berbagai organisasi kampus mulai dia berkiprah dan beberapa kali meduduki posisi strategis. Demikian juga untuk organisasi ekstra kampus, sehingga banyak memberikan pengalaman yang berharga dalam diri sang capres. Banyaknya kawan yang sevisi membuat kepribadian dan jiwa kepemimpinannya meningkat. Pemikirannya pernah dia tuliskan dalam beberapa majalah ternama dan sempat membuat orang menjadi terhenyak, sensasional.
Tidak sejalan dengan bakat organisasinya, urusan kuliah menjadi terbengkalai. Maklum juga dengan sibuknya kegiatan organisasi, sedangkan materi kuliahnya yang teknik membuat orang harus menggunakan pikiran ekstra untuk bisa memahami. Sederet simbol dan angka gila terus menjadi makanan tiap kuliah, yang membuat kebanyakan para mahasiswa alergi. Dengan perjuangan yang agak berat akhirnya kuliah bisa diselesaikannya. Berhasil mewujudkan impian orang tuanya menyekolahkan anak sampai tingkat sarjana, sebuah prestasi yang bagus.
Cita-cita yang muncul selepas lulus kuliah adalah jadi seorang wirausahawan, dan benar saja mulai membentuk perusahaan kecil bersama teman-temannya. Beberapa tahun usahanya berjalan denga bagus namun karena bencana nasional melanda yang membuat banyak perusahaan harus pulang kampung. Lagipula orang tuanya tak mau anaknya capres 2024 jauh dari keluarga, sehingga mengalahlah sang anak. Kemudian merintis sebuah usaha kecil yang dekat denga keluarga sehingga memungkinkan untuk bertemu keluarga paling tidak sebulan sekali.
Sang Capres Berkeluarga
Karena kesibukan untuk usahanya yang harus dikembangkan, membuat sang capres jarang menemui sang anak. Beruntung masih ada orang tua yang bersedia menjaganya dirumah. Untuk masa kedepan, di tengah mengemas bisnisnya sang capres mulai melakukan safari politik dan beberapa tokoh politik lokal mulai didekati. Pemikirannya ternyata jauh diatas mereka sehingga membuat sang capres naik kelas di mata mereka.
Sang capres akan berlaga di tahun 2024 dan saat ini sedang menyiapkan segala skenario untuk menuju ke sana. Menggalang kekuatan, menyiapkan fondasi ekonomi dan kepemimpinan beserta massa yang diperlukan untuk mengatasi persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia.
Nantikan kehadirannya sang capres di sana….! Presiden RI 2024 – 2029
Naik Sepeda Onthel
Sedikit Waktu Istirahat
Kehilangan Motivasi
Pernah suatu kali meminta saran pada seorang teman, apakah mengakhiri kuliahnya dengan konsekuensinya DO atau melanjutkan. Temannya menyarankan untuk menyelesaiakan studinya meski dalam situasi apapun, apalagi tinggal skripsi saja. Mata kuliah penentu yang sering menjadi momok bagi seorang mahasiswa. Akhirnya dengan usaha gigih, meskipun berjalan lambat skripsi dapat ia selesaikan, dan gelar sarjanapun dia peroleh. Meski dengan IPK pas-pasan akhirnya lulus juga dan dapat gelar sarjana.
Kuliah Lagi
Kehidupan masih berlanjut, ketika sudah mengantongi ijazah sarjana belum cukup dilanjutkan mengikuti kulian Akta IV agar bisa resmi mengajar di sekolah. Selama dua semester di UNISRI akhirnya bisa dia selesaikan, kali ini kuliah berjalan normal. Mungkin karena sudah yakin dengan jalan hidupnya yaitu ingin mengajar seperti para guru yang lain. Dan mengajar di Pondok masih dia lakukan saat ini, dan saat ini lain.
Kali Ini Sepeda Motor
Ketika dulu tiap kali mengajar ke pondok dengan mengayuh sepeda onthel, beberapa tahun ini atas kebaikan saudaranya bisa menggunakan sepeda motor. Sepeda onthelnya dulu dia jual dan berbekal uang tabungan tiap bulan dan tunjangan honorer yang dia dapat dari pemerintah dia mengajukan kredit sepeda motor Kharisma. Sebuah impian yang dia nantikan, namun tak seindah sebelumnya, ternyata sesuatu yang dipaksakan akan membuat kesulitan sendiri. Tiap bulan harus terbebani dengan angsuran yang harus dia setor ke BMT, meski akhirnya dengan bantuan dari dana orang tuanya bisa juga dan tidak dibingungkan dengan angsuran tiap bulan lagi.
Kehidupan Terus Berlanjut
Berusaha untuk mencari kehidupan di luar yang lebih baik.
Dan kehidupan kawanku masih terus berlanjut………….!
L.P.S,S.Si
