You are currently browsing the category archive for the ‘Menghindar dari Persaingan’ category.
Apa yang terjadi, yang kualami dan aku lihat dalam kehidupan, seperti penanaman pola pikir pada anak atau remaja. Semua itu secara sengaja atau tidak telah menghilangkan keberadaan persaingan. Para orang tua tidak senang melihat anak-anaknya bersaing dengan teman-teman seusianya. Mereka tidak rela jika anak mereka kalah dalam perlombaan 17 Agustusan misalnya. Kemudian mereka para orang tua turut campur dan bermain dalam perlombaan dan mengendalikan agar anaknya menang. Secara tidak sengaja mengajarkan sang anak menjadi lemah dan kurang berusaha dengan kemampuan sendiri. Mereka jadi terbiasa berharap bantuan dan belas kasih dari orang tua atau kakaknya mungkin. Seperti seorang raja bersabda, ” Kamu duduk dan enak-enak disini saja Nak, kalo ingin tahta nanti saya carikan!” Apalagi jika sampai memilih istri saja harus lebih melibatkan usaha orang tuanya.
Dalam pekerjaan banyak juga orang tua yang berperan banyak tentang pekerjaan si anak. Orang tua memberi intervensi pada kenalannya agar anaknya bisa bekerja dalam suatu perusahaan atau dalam instansi pemerintah. Kalau sudah begini tingkat fair lagi, aturan yang telah ada dilanggar dan persaingan tidak sehat lagi. Dalam sekala besar menjadi tidak relevan, bayangkan saja sebuah negara terisi dengan orang-orang yang masukknya saja tidak fair. Tentu suatu saat akan menjadi beban saat terjadi pengambilan keputusan yang genting. Keputusan yang terjadi menjadi tidak murni lagi, guna menghindari kesalahan dari salah satu golongan mereka.
Apa yang terjadi, yang kualami dan aku lihat dalam kehidupan, seperti penanaman pola pikir pada anak atau remaja. Semua itu secara sengaja atau tidak telah menghilangkan keberadaan persaingan. Para orang tua tidak senang melihat anak-anaknya bersaing dengan teman-teman seusianya. Mereka tidak rela jika anak mereka kalah dalam perlombaan 17 Agustusan misalnya. Kemudian mereka para orang tua turut campur dan bermain dalam perlombaan dan mengendalikan agar anaknya menang. Secara tidak sengaja mengajarkan sang anak menjadi lemah dan kurang berusaha dengan kemampuan sendiri. Mereka jadi terbiasa berharap bantuan dan belas kasih dari orang tua atau kakaknya mungkin. Seperti seorang raja bersabda, ” Kamu duduk dan enak-enak disini saja Nak, kalo ingin tahta nanti saya carikan!” Apalagi jika sampai memilih istri saja harus lebih melibatkan usaha orang tuanya.
Dalam pekerjaan banyak juga orang tua yang berperan banyak tentang pekerjaan si anak. Orang tua memberi intervensi pada kenalannya agar anaknya bisa bekerja dalam suatu perusahaan atau dalam instansi pemerintah. Kalau sudah begini tingkat fair lagi, aturan yang telah ada dilanggar dan persaingan tidak sehat lagi. Dalam sekala besar menjadi tidak relevan, bayangkan saja sebuah negara terisi dengan orang-orang yang masukknya saja tidak fair. Tentu suatu saat akan menjadi beban saat terjadi pengambilan keputusan yang genting. Keputusan yang terjadi menjadi tidak murni lagi, guna menghindari kesalahan dari salah satu golongan mereka.
